Selasa, 06 Desember 2011

meletusnya gunung tambora 1815

BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang
Di Nusantara adalah salah satu wilayah yang terdapat banyak gunung merapi dan sering menimbulkan bencana bagi masyarakat atau mahluk hidup yang terdapat di wilayah tersebut.salah satunya adalah gunung tambora yang pernah meletus beberapa puluh tahun yang lalu
Gunung tambora adalah salah satu gunung yang terletak di pulau Sumbawa dan sekarang berada di wilayah bima,selain sebagai gunung api, gunung tambora juga memiliki panorama yang cukup indah.
Menurut cerita gunung tambora ada dua versi yaitu, pertama berasal dari kata lakambore dari bahasa bima yang berarti mau kemana. Kedua, berasal dari kata ta dan mbora “ta” yang berarti mengajak dan kata “mbora” yang berarti menghilang, jadi arti kata tambora yaitu mengajak menghilang
Gunung ini berada di wilayah Bima, Nusa Tenggara Barat. Daerah ini dapat dijangkau dengan menggunakan pesawat udara dari Mataram, Lombok sekitar 1 jam menuju Bima. Dari Bima dapat ditempuh melalui darat menuju Dompu sekitar 60 km. Dari Dompu ke Kore berjarak 100 Km. Dari sini dengan speedboat menuju Labuhan Bili, dapat ditempuh sekitar 3 jam.
Pendakian Menuju Puncak Untuk mencapai kaldera puncak gunung ini pendaki dapat memulai pendakian dari arah Barat Laut dimulai dari Labuan Kenanga. Dari tempat ini sampai ke Perkebunan Kopi Tambora yang letaknya berjarak 15 km. Keluar dari komplek perkebunan perjalanan terus melalui jalan setapak. Pendakian dari Perkebunan Kopi Tambora sampai ke puncaknya memakan waktu bervariasi tergantung jalur yang diambil selama perjalanan.
Selain dari Labuan Kenanga pendakian menuju puncak gunung ini dapat pula dilakukan dengan menggunakan lereng Timur gunung dimulai dari Oi Sengari. Dan jalur Selatan gunung ini pernah pula didaki oleh van Rheden seorang ahli Geologi mengatakan Binatang yang hidup di sekitar gunung Tambora adalah rusa, babi hutan, sapi liar, kerbau, monyet, landak, biawak, musang, kura-kura, berbagai jenis burung seperti kakaktua kepala putih, nuri merah, ayam hutan, elang, gagak, dll.
Meletusnya Gunung Tambora pada 5 April 1815 dengan sangat dasyatnya hingga menewaskan sekitar 92.000 orang. Sekitar tiga tahun sebelum letusan penduduk Sanggar telah melihat adanya kegiatan yang sangat tinggi dari Gunung ini. Karena kedasyatannya hingga tercatat dalam sejarah dunia. Menurut Muslimin Hamzah dalam bukunya Ensiklopedia bima kekuatan letusannya bahkan 10 kali kekuatan bom atom di Hiroshima.
Suara letusan gunung ini terdengar sampai ke - Jakarta (1250 km) dan Ternate (1400 km). Hujan abu pertama jatuh di Besuki Jawa Timur. Pada 10 dan 11 April 1815 Suara letusan gunung Tambora terdengar sampai ke Pulau Bangka (1500 km) dan Bengkulu (1775 km) dan gempa bumi yang terjadi bersamaan dengan letusan gunung ini terdengar sampai ke Surabaya (600 km).
Dengan meletusnya gunung tambora keaadaan masyarakat bima khususnya penduduk yang bertempat tinggal disekitar khawasan gunung tambora berubah drastis dan kesejahteraan yang dibangun mulai runtuh,tanah yang semula subur, kemudian tidak dapat ditanami selama lima tahun membuat kelaparan serta kemelaratan berkepanjangan
PEMBAHASAN
Tinjauan  umum tentang gunung tambora.
Gunung tambora adalah gunung berapi aktif yang berdiri tegak di Pulau Sumbawa, yang juga bagian dari kepulauan Nusa Tenggara Barat. Karena bentukan Tambora oleh Zona Subduksi dibawahnya, sehingga bisa meningkatkan ketinggian puncaknya mencapai 4.300 m dpl, dan dipastikan sebagai salah satu puncak gunung yang tinggi di seluruh nusantara setelah Puncak Jaya (Carstensz Piramid 4884 m dpl), namun ini terjadi sebelum bulan April 1815 sebagai puncak meletusnya gunung Tambora dengan skala letusan mencapai angka tujuh,
Secara administratif Gunung Tambora terletak diantara dua Kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu (sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut), dan Kabupaten Bima (bagian lereng sisi selatan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi timur sampai barat laut Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan garis koordinat tepatnya pada 8°15' LS dan 118° BT). Disamping kalangan wisatawan dan pendaki gunung yang menikmati panorama dan pesona alam unik, Gunung Tambora juga masih dipantau aktifitasnya secara rutin oleh ahli gempa dan Vulcanologist, Gunung Tambora juga menarik minat untuk studi Arkeologi dan Biologi
Kata Tambora sendiri mempunyai  dua versi, yang pertama yang berasal dari kata Lakambore - Bahasa Bima yang artinya "Mau Kemana?", kalimat pertanyaan kepada seseorang yang hendak bepergian. Versi kedua berasal dari dua kata Ta dan Mbora, juga dari bahasa Bima, "ta" yang berarti mengajak dan "mbora" yang artinya menghilang, sehingga secara keseluruhan berarti mengajak menghilang
Ada tiga titik konsentrasi desa-desa yang berada di sekitar lereng Gunung Tambora. Disebelah timur adalah desa Sanggar, ke arah laut adalah desa Doro Peti dan desa Pesanggrahan, dan di barat adalah desa Calabai. Ada dua jalur pendakian untuk mencapai kaldera. Rute pertama dimulai dari desa Doro Mboha di tenggara gunung. Rute ini mengikuti jalan beraspal melalui mete perkebunan hingga mencapai 1.150 meter (3,800 kaki) di atas permukaan laut.  Akhir dari rute ini adalah bagian selatan kaldera pada 1.950 meter (6.400 kaki), dapat dicapai melalui jalur hiking.  Lokasi ini biasanya digunakan sebagai base camp untuk memantau aktivitas gunung berapi, karena hanya dalam waktu satu jam untuk mencapai kaldera. Rute kedua dimulai dari desa Pancasila di barat laut gunung.  Dengan menggunakan rute kedua, maka kaldera hanya dapat diakses dengan berjalan kaki.
  Proses Meletusnya Gunung Tambora Tahun 1815
Banyak sebagian dari yang belum ketahui kalau Gunung Tambora pernah tercatat sebagai gunung api yang tinggi di Nusantara. Itu terjadi sebelum gunung tersebut meletus dahsyat pada April 1815. Ketika itu puncak Gunung Tambora mencapai ketinggian sekitar 28.300 meter di atas permukaan laut, selain sebagai salah satu gunung api yang tinggi, gunung tambora juga pernah tercatat sebagai salah satu gunung yang tinggi juga di Indonesia saat ini sebelum gunung tersebut meletus, Usai Tambora meletus hebat, daratan di bagian puncak itu dimuntahkan ke berbagai arah. Akibatnya, ketinggian gunung api yang masih tersisa tinggal setengahnya, yakni sekitar 2.851 m dpl.
Letusdan tambora disebabkan oleh magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi atau karena gerakan lempeng bumi, tumpukan tekanan dan panas cairan magma. Letusan gunung api tambora merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah “erupsi”, hamper semua kegiatan gunung api berkaitan dengan zona kegempaan aktif yang berhubungan dengan batas lempeng.
Letusan yang amat mengerikan itu juga menyisakan sebuah kaldera yang sangat besar. Bahkan, menurut catatan, ukuran kaldera tersebut paling luas di Indonesia. Bayangkan, kaldera tersebut memiliki diameter sekitar 3.500 km, panjang maksimal 4.000 km, dan kedalaman 950 km
Tragedi itu bermula pada awal April 1815. Ketika itu kawasan di sekitar Gunung Tambora mulai bergetar. Getaran itu semakin menguat pada 5 April 1815 bersamaan dengan suara letusan yang terdengar menggelegar keras keangkasa, kemudian letusan mencapai proksima pada 10  sampai 12 April 1815 yang meluluh-lantahkan masyarakat yang bermukim di sekitar gunung Tambora
Letusan yang sangat dashyat terjadi pada tanggal 10 1815 sekitar pukul 19.00 waktu setempat. Sejak saat itu hingga lima hari, ledakan Gunung Tambora mencapai klimaksnya.Pada malam hari, dari kejauhan Tambora memang benar-benar terang benderang lantaran api yang terus memancar dari puncak gunung tersebut. Suasananya sangat mencekam. Gunung itu seolah berubah menjadi aliran api yang sangat besar.Pada saat bersamaan, letusan itu juga memuntahkan gas panas, abu vulkanik, dan batu-batu ke arah bawah sejauh 20 km hingga ke laut. Desa-desa di sekitar Tambora pun musnah dilalap aliran piroklastik tersebut
Letusan Gunung Tambora juga membawa material longsoran yang sangat besar ke laut. Longsoran itu menimbulkan tsunami di berbagai pantai di Indonesia seperti Bima, Jawa Timur, dan Maluku. Ketinggian tsunami tersebut ditaksir mencapai 4 meter. Bukan hanya itu, ledakan dahsyat tersebut juga menebarkan abu vulkanik hingga ke Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Bahkan bau nitrat juga tercium hingga ke Batavia (kini Jakarta). Hujan besar disertai jatuhnya abu juga terjadi.
Menurut Haris Firdaus dalam bukunya berjudul Misteri-misteri Terbesar Indonesia (2008), tiga kerajaan kecil hangus dan hancur terkena lahar dan material letusan Gunung Tambora. Ketiga kerajaan itu adalah Pekat yang berjarak sekitar 30 km sebelah barat dari Tambora. Lalu, Kerajaan Sanggar berjarak 35 km sebelah timur Tambora, dan Kerajaan Tambora berjarak 25 km dari gunung tersebut
Letusan Gunung Tambora itu terdengar hingga ke Pulau Sumatera, Makassar, dan Ternate sejauh 2.600 km. Abunya juga diterbangkan sejauh 1.300 km dengan ketinggian 44 km dari permukaan tanah. Volume debu ditaksir mencapai 400 km3. Saking tebalnya debu-debu yang berterbangan di langit, sepanjang daerah dengan radius 600 km dari gunung tersebut terlihat gelap gulita selama dua hari. Maklum, sinar matahari tak mampu menembus tebalnya abu-abu tadi. Daerah paling menderita tentu saja yang berdekatan dengan lokasi Gunung Tambora.
 
    Keadaan masyarakat sebelum dan sesudah gunung tambora meletus
Sekitar tahun 1400, orang- orang Jawa memperkenalkan cara bertanam padi di sawah dan mulai mengimpor kuda. Semakin lama jumlah penduduk berkembang. Orang mengandalkan hidup terutama dari beras, kacang hijau, dan kuda. Sementara dari perkebunan orang mengandalkan kopi, lada, dan kapas yang bisa tumbuh subur.
Di kawasan itu telah terdapat pula hubungan dagang. Pada masa itu Kerajaan Bima umumnya terbuka dari dunia luar. Dari segi ekonomi, perniagaan merupakan penghasilan utama dengan komoditas ekspor utama sebelum 1815 ialah beras, madu, kapas, dan kayu merah. Setelah Tambora meletus, kesejahteraan yang terbangun itu runtuh.
Masyarakat bima khususnya masyarakat yang berada disekitar gunung tambora dalam kesehariannya melakukan aktifitas bertani, beternak, berdagang,serta berladang, dengan demikian keadaan masyarakat sebelum meletusnya gunung tambora sudah bisa dikatakan sejahtera, karena masyarakat sudah dapat mengekspor hasil pertanian ataupun hasil lading serta hasil ternak mereka.
 Setelah letusan, keadaan di sekitar Tambora terutama di Bimapun berbalik. Tanaman pertanian masyarakat tidak dapat dipanen dan mengalami kerugian yang cukup banyak serta membuat masyarakat kelaparan dan kemelaratan yang cukup panjang dan sangat menyengsarakan masyarakat. Di kahwasan gunung tanbora terdapat tiga kerajaan yang berhubungan langsung dengan dampak dari letusan gunung tambora dan mengalami perubahan yang sangat drastic ketika terjadi letusan gunung tambora pada awal bulan April tahun 1815
Hampir semua penghuni di tiga kerajaan tersebut tewas. Hanya beberapa orang saja berhasil selamat. Padahal, lokasi ketiga kerajaan itu tadinya sudah diusahakan cukup aman dari dampak letusan gunung api, tetapi dengan kedahayatan dari letusan gunung tambora mampu melululantahkan 3 kerajaan tersebut.
  Kerajaan sanggar
Kerajaan sanggar teletak di sebelah barat laut Dompu, sebelah timur kaki gunung tambora. Pada awal abad XIX sebelum gunung tambora penduduknya berjumlah 2000 jiwa pada tahun 1808, dan pada tahun 1815 sebelum gunung tambora meletus meningkat menjadi dua ribu dua ratus jiwa, dan ketika gunung tambora meletus bulan april tahun 1815 sebagian besar penduduknya meninggal, tinggal dua ratus orang.
Sebagian kecil masyarak yang selamat dari letusan gunung tambora melarikan diri atau meminta perlindungan dari masyarakat bangu yang merupakan bagian dari kerajaan Dompu, dan sebagianya lagi ke gembe yang merupakan bagian dari kerajaan bima
Pada tahun 1830 dengan bantuan pemerintah kerajaan Bima  mereka kembali ke kampong mereka, dan pada tahun 1837 penduduk dari kerajaan sanggar masih berjumlah tiga ratus lima puluh jiwa, mereka mulai membangun dan mengerjakan tempat tinggalnya dengan cara gotong royong
      Kerajaan Tambora
Kerajaan Tamboara berada ditiga penjuru yang di batasi oleh laut. Disebelah barat berbatasan dengan sanggar dan dompu dengan luas areal 459 pal persegi, seluruh kerajaan berada di daerah gunung tambora (gunung arun), keadaan masyarakat sebelum gunung tambora meletus sudah mengalami kekurangan air, untuk mendapatkan air minum masyarakat harus menggali sumur dekat pantai
Masyarakat Tambora hidup dari berladang, beternak dan meramu,lading-ladang yang sudah ditanami cukup dilembabi oleh embun dank arena itu masyarakat bertanam pada bulan Agustus dan panen pada bulan agustus sebab masyarakat pada saat itu menderita kekurangan air, bahkan untuk mendapatkan air masyarakat harus menggalli sumur di dekat-dekat pantai untuk mendapatkan air
Menurut TOBIES pada tahun 1808 kerajaan Tambora berpenduduk empat ribu jiwa dan pada tahun 1815 sesaat sebelum gunung tambora meletus penduduknya meningkat menjadi delapan ribu jiwa, ketika gunung tambora meletus pada tahun 1815 korban yang meninggal sebanyak tiga puluh jiwa, dan tahun 1816 penduduk yang tersisa semuanya meninggal akibat dilanda banjir lahar, kemidian bekas wilayah tersebut masuk kedalam wilayah kesultanan Dompu
      Kerajaan Pekat
Mengenai kerajaan pekat tidak banyak yang tahu secara pasti jumlah penduduk dan jumlah korban meletusnya gunung tambora, kerajaan pekat adalah Suatu kerajaan kecil yang mempunyai hubungan baik dengan VOC,tetapi akibat letusa gunung tambora pada bulan April tahun 1815 penduduknya musnah semua dan bekas wilayahnya dimasukkan kedalam wilayah kerajaan Dompu.
  Dampak dari meletusnya gunung tambora
Meletusnya gunung tambora tahu 1815 dengan begitu dahsyatnya sangat beerpengaruh sekali bagi kehidupan masyarakat saat itu yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa yang sangat banyak. Korba jiwa dari letusan gunung tambora tidak hanya terdapat di bima atau lebih khususnya masyarakat yang tinggal di sekitar gunung tambora, tetapi banyak juga terdapat di daerah-daerah lain seperti Lombok dan Sumbawa yang di sebabkan langsung oleh letusan gunung, dan sebagianya lagi disebabkan secara tiddak langsung, seperti ada juga yang terkena penyakit dan kelaparan.
(Hamzah Muslimin.2004:177) jumlah korban manusia yang langsung disebabkan oleh letusan gunung tambora 10.000 orang, akibat letusan juga jatuh banyak korban karena kelaparan dan penyakit yakni 38.000 di Sumbawa dan 44.000 orang di Lombok jadi korban seluruhnya 92.000 orang.

Letusan tambora juga menghancurkan lahan-lahan pertanian bagi masyarakat serta hewan-hewan ternak, dimana lahan-lahan pertanian yang semula sangat subur berubah menjadi lahan-lahan yang sama sekali tidak bisa ditanami dengan apapun, demikian juga dengan hewan-hewan ternak di samping mati pada saat gunung meletus dan sebagianya mati karena kelaparan dan tidak ada satupun yang bisa dimakan.banyak tanaman budidaya hancur dan gagal panen,  partikel-partikel abu itu dalam jangka waktu lama masih berada di atmofer dengan ketinggian 10 – 30 km. Akibatnya, siklus iklim menjadi tak menentu dan petani pun tidak bisa memanen tanaman budidayanya.
Disamping dampak yang bagi masyarakat bima khususnya masyarakat yang bermukim disekitar gunung, tetapi banyak daerah yang merasakan dampak dari letusan gunung tersebut seperti: P.bangka, Bengkulu, Surabaya, Besuki, P.Madura, dampak yang ditimbulkan seperti, adanya gempa bumi, suara dari letusan gunung tambora, terjadinya gelombang pasang, dan asap abu yang sangat tebal.
(Hamzah Muslimin,2004: 176), pada tanggal 10 dan 11 April 1815 detuman letusan paroksisma ini terdengar sampai P.Bangka (1500 km) dan Bemgkulu (1775 km), gempa bumi yang terjadi bersamaan dengan letusan tersebut terana sampai Surabaya (600 km), di Besuki  gelombang pasang sampai 6 kaki tingginya. Asap abu yang sangat tebal dan banyak sehingga P.Madura (500 km) seluruhnya gelap sampai 3 hari
Disamping dampak yang ditimbulkan dari meletusnya gunung tambora yang mendatangkan kerugian bagi makhluk hidup khususnya manusia, terdapat pula keuntungannya seperti yang dapat kita lihat sekaran pada gunung tambora, dari hasil letusan tahun 1815 sekarang gunung tambora menjadi sala satu tempat wisata bagi masyarakat khususnya masyarakat bima yang mempunyai daya tarik tersendiri.
Dari hasil letusannya tambora terbukti adanya beberapa tanaman budidaya dengan membentuk cagar alam tepat di sebelah barat gunung tambora seluas 10.000 hektar yang di jadikan cagar alam dengan nama Cagar Alam Duabanga
Puncak tambora juga menampilkan panorama yang menakjubkan, puncak tambora menyapu sampai berbatas lekung langit,kemudian dengan ketinggian 1.800 meter terbentang dalam pelukan tebing kaldera yang terjal hamper tegak lurus, di bagian lain kita mampu melihat dari keseluruhan pulau Sumbawa dengan teluk saleh dan beberapa pulau kecil seperti: Moyo dan Satonda sampai ke Lombok dengan puncak rinjaninya yang kokoh, Di ujung lain kita dapat lihat Laut Flores
Dalam pendakian gunung tambora bias dibilang memikat karena dalam pendakian melewati hutan primer Kalanggo yang rapat dan berukuran raksasa, kemudian kita menapaki hutan palma dan rota, menelusuri kawah gersang berupa pasir dan bebatuan kering gersang
sumber:...........
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya,Proyek Penelitian dan Pencatatan kebudayaan Daerah.1977/1978. Sejarah Daerah nusa Tenggara Barat.Jakarta: Balai Pustaka
Hamza Muslimin,2004. Ensiklopedia Bima: Pemkab Bima
Ismail, M Hilir. 1988. Peran Kesultanan Bima Dalam Perjalanan Nusantara. Bima: Lengge
Kartidirjo, Sartono. 1992. Pendekatan Ilmu-Ilmu Sosial Dalam Metodelogi Sejarah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Ismail, M. Hilir. 1996. Sjarah Mbojo Bima Dari Jaman Naka Sampai Kemerdekaan. Bima: Agung Perdana
Tjetjep S. Wimpy. 2002. Dari Gunung Api Hingga Otonomi Daerah. Jakarta: Yayasan Media Bhakti Tambang
Hartuti rine Evi. 2009. Buku Pintar Gempa. Jogjakarta: Diva Press


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar